BERITA
12 Nov 2025
Jika Anda berkunjung ke sentra tekstil di Bandung atau Solo: deru mesin yang dulu nyaring kini terdengar sayup. Satu per satu pabrik menurunkan kapasitas produksi, sebagian bahkan tutup karena tak lagi mampu bersaing. Di sisi lain, pasar dan toko online kita dibanjiri pakaian berharga sangat murah, sebagian besar berasal dari China.
Harga murah memang menggoda, tapi di balik itu ada persoalan besar: industri tekstil nasional sedang kehilangan napas. Seperti yang disampaikan oleh Menteri Purbaya Yudhi Sadewa dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), “Yang untung itu mereka yang impor, tapi industrinya mati.”
Pernyataan ini menyentil keras realitas di lapangan, ketika impor tekstil dan pakaian jadi terus membanjiri pasar, produsen lokal pelan-pelan tersingkir di tanah sendiri.
China dikenal sebagai produsen tekstil terbesar di dunia. Dengan teknologi modern, biaya produksi rendah, dan integrasi rantai pasok yang efisien, mereka mampu memproduksi dalam volume besar dengan harga jauh lebih murah.
Data dari Kontan.co.id menyebutkan, lonjakan impor murah tekstil dari China menekan produsen dalam negeri hingga menyebabkan kapasitas terpakai industri TPT nasional hanya sekitar 60%.
Akibatnya, harga produk lokal sulit bersaing. Bagi konsumen, pakaian impor murah tampak seperti pilihan yang rasional. Tapi bagi pelaku industri lokal, dari pabrik besar hingga UMKM konveksi, kondisi ini menjadi tekanan berat yang bisa mematikan usaha mereka secara perlahan.
Baca juga: Tren Tekstil Global 2025–2030: Sustainability, Digitalisasi, dan Masa Depan Industri
Industri tekstil adalah sektor padat karya yang selama ini menyerap jutaan tenaga kerja. Namun, data dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menunjukkan bahwa lebih dari 30 ribu pekerja telah terkena PHK sejak awal 2024 akibat turunnya permintaan dan masuknya produk impor murah.
Impor murah juga menggerus rantai pasok dalam negeri. Ketika pabrik besar kehilangan pesanan, dampaknya menjalar ke UMKM: mulai dari pengrajin kain, penenun, hingga penyuplai benang dan aksesoris.
Padahal, sektor ini selama ini menjadi tulang punggung kreativitas lokal: tenun, batik, dan motif tradisional yang jadi kebanggaan Indonesia.
Selain produk baru, pakaian bekas impor atau yang dikenal sebagai thrifting juga menambah tekanan pada industri. Meski digemari karena murah dan “bernilai vintage”, praktik ini jelas merugikan industri lokal dan berpotensi melanggar aturan.
Pemerintah kini mulai memperketat pengawasan. Sesuai yang dilansir CNA, Presiden Prabowo Subianto menegaskan larangan impor pakaian bekas akan terus diberlakukan untuk melindungi produsen tekstil nasional. Langkah ini sejalan dengan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai bahwa perdagangan barang bekas impor hanya menguntungkan pihak tertentu sementara industri dalam negeri pelan-pelan mati.
Namun, seperti dikutip dari Indotextiles.com, pengawasan di lapangan masih menjadi tantangan. Banyak pakaian bekas impor masuk melalui jalur tidak resmi, menyaingi produk lokal di pasar dengan harga sangat rendah.

Kami memahami, sebagian pelaku industri lokal masih menghadapi kendala efisiensi. Banyak mesin yang sudah berumur puluhan tahun dan belum sepenuhnya otomatis. Biaya listrik dan bahan baku juga tinggi karena sebagian besar masih impor dari China.
Kondisi ini membuat produk lokal tidak bisa menandingi harga produk impor. Di sinilah dilema muncul, tanpa modernisasi, daya saing sulit naik; tapi tanpa perlindungan, kesempatan untuk berbenah semakin sempit.
Beberapa laporan menunjukkan bahwa masih ada praktik impor undervalue, di mana barang tekstil dari luar negeri dilaporkan dengan nilai jauh di bawah harga sebenarnya untuk menghindari bea masuk. Jika pengawasan di pelabuhan dan jalur distribusi tidak diperkuat, maka impor murah tekstil dari China akan terus menguasai pasar domestik.

Impor murah memang menggoda, tapi di balik harga rendah ada konsekuensi besar bagi masa depan industri kita. Seperti diingatkan Menteri Purbaya Yudhi Sadewa, jika impor dibiarkan tanpa kontrol, “industrinya mati pelan-pelan.”
Kami percaya, masih ada jalan untuk bangkit dengan modernisasi, kebijakan tegas, dan dukungan Anda sebagai konsumen.
Bagikan
BERITA BARU