BERITA
07 Mei 2026 | Kategori Berita: Keberlanjutan
Industri fashion terus berkembang dengan cepat mengikuti tren, musim, dan kebutuhan pasar yang dinamis. Namun di balik pertumbuhan tersebut, ada tantangan besar yang semakin mendapat perhatian global: limbah tekstil. Setiap tahun, jutaan ton material tekstil dihasilkan dari proses produksi hingga konsumsi pakaian. Bahkan menurut data terbaru dari United Nations Environment Programme (UNEP), dunia menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil per tahun.
Lalu, mengapa industri fashion menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam isu ini?

Dari 100 miliar pakaian yang diproduksi setiap tahun secara global, sekitar 92 juta ton berakhir di tempat pembuangan sampah, setara dengan satu truk sampah penuh pakaian setiap detiknya. Jika tren ini terus berlanjut tanpa intervensi, jumlah limbah tekstil diperkirakan akan melonjak hingga 134 juta ton per tahun pada akhir dekade ini.
Indonesia bukan sekadar penonton dalam krisis ini. Berdasarkan laporan Global Green Growth Institute (GGGI), timbunan limbah tekstil nasional telah mencapai 2,3 juta ton per tahun dan berpotensi meningkat hingga 70 persen dalam beberapa tahun mendatang jika tidak dilakukan intervensi. Bahkan, Indonesia diproyeksikan akan menghasilkan 3,9 juta ton limbah tekstil pada 2030, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat polusi air tertinggi kedua akibat industri tekstil di antara negara-negara G20.
Salah satu akar masalah terbesar adalah model bisnis fast fashion, produksi pakaian dalam jumlah besar, harga murah, dan pergantian tren yang sangat cepat. Rata-rata konsumen akan membuang pakaiannya setahun setelah membeli, mengikuti mode yang terus berubah dan meninggalkan tren yang sudah berlalu. Di Indonesia sendiri, data YouGov mencatat bahwa 66% masyarakat dewasa membuang setidaknya satu pakaian dalam setahun, bahkan tiga dari sepuluh orang Indonesia pernah membuang pakaian setelah hanya memakainya sekali.
Bukan hanya konsumen yang berkontribusi, industri itu sendiri memproduksi jauh melebihi permintaan. Menurut laporan Program Lingkungan PBB (UNEP), produksi pakaian global telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2000, membawa dampak berupa polusi, perubahan iklim, dan konsumsi sumber daya alam yang semakin besar.
Sayangnya, solusi belum secepat masalahnya. Secara global, hanya 8 persen serat tekstil yang berasal dari material daur ulang, dan praktik textile-to-textile recycling masih sangat terbatas, di bawah 1 persen. Infrastruktur dan teknologi daur ulang tekstil secara global belum mampu mengimbangi besarnya volume limbah yang dihasilkan, sehingga potensi daur ulang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Baca juga: 5 Inovasi Recycling di Industri Tekstil yang Wajib Diketahui Pelaku Industri
Mengurangi limbah tekstil membutuhkan kolaborasi dari seluruh ekosistem, mulai dari produsen, brand, hingga konsumen.
Brand dapat menekan limbah dengan:
Langkah ini membantu menekan waste sejak tahap awal.
Di sisi lain, konsumen juga berperan penting melalui keputusan pembelian yang lebih terencana, penggunaan produk lebih optimal, serta pemanfaatan kembali pakaian yang dimiliki.
Dengan pendekatan menyeluruh, industri fashion dapat bergerak menuju sistem yang lebih efisien sekaligus relevan dengan kebutuhan pasar modern.

Isu limbah tekstil dalam industri fashion bukan hanya tentang jumlah pakaian yang dibuang, tetapi juga bagaimana industri mengelola produksi, distribusi, dan konsumsi secara lebih optimal.
Bagaimana menurut Anda, langkah apa yang paling efektif untuk mengurangi limbah tekstil di industri fashion, khususnya di Indonesia?
KATEGORI BERITA
BERITA TERBARU
BERITA TERPOPULER 🔥
BERITA RELEVAN