BERITA

Sampah Fashion Menggunung! Bagaimana Indonesia Menangani Limbah Pakaian?

18 Jan 2026   |   59 Dilihat   |   Kategori Berita: Keberlanjutan

Tahukah Anda bahwa pakaian yang Anda buang bisa menjadi bagian dari gunungan limbah fashion yang saat ini tengah menjadi masalah lingkungan serius di Indonesia? 

Dari pakaian fast fashion yang cepat usang hingga pakaian bekas yang terus diimpor, tantangan limbah pakaian semakin nyata di tahun 2025, dan solusinya butuh kolaborasi bersama.

 

center>indonesia menangani limbah pakaian

Sumber gambar: Valid News

 

 

Apa Itu Limbah Pakaian dan Kenapa Penting?

Definisi limbah pakaian

Limbah pakaian atau limbah tekstil mencakup pakaian bekas, kain sisa produksi, serta bahan tekstil yang tidak terpakai lagi dan dibuang ke lingkungan. Limbah ini menjadi isu global karena:

Dampak lingkungan & konsumsi

Bukan hanya jumlahnya yang banyak, limbah pakaian juga membawa dampak lingkungan karena:

  • Banyak pakaian terbuat dari serat sintetis yang tidak mudah terurai, berpotensi meninggalkan mikroplastik di tanah dan air.
  • Produksi tekstil boros air dan energi, yang turut melepaskan emisi karbon besar. 

 

Baca juga: Apa Itu Biodegradable Fabric? Pengertian, Jenis, dan Manfaatnya

 

Kondisi Limbah Pakaian di Indonesia Saat Ini

Volume limbah tekstil nasional

Di Indonesia, limbah tekstil menjadi bagian tantangan besar dalam pengelolaan sampah nasional. Menurut data resmi:

  • Sampah tekstil menyumbang sekitar 2,87% dari total sampah nasional, atau sekitar 1,75 juta ton per tahun.
  • Report lain menyebutkan produksi limbah tekstil nasional mencapai sekitar 2,3 juta ton per tahun, dengan tren meningkat jika tidak ditangani.

Ini menunjukkan bahwa pakaian dan limbah tekstil merupakan bagian penting dari masalah sampah di Indonesia yang sering diabaikan.

Tren konsumsi & impor pakaian bekas

Selain limbah domestik, Indonesia juga menjadi tujuan impor pakaian bekas yang terus meningkat hingga Agustus 2025 menurut Databoks, menambah volume limbah yang harus ditangani sekaligus memperumit pengelolaan. 

 

Bagaimana Indonesia Menangani Limbah Pakaian?

1. Kebijakan circular economy

Pemerintah Indonesia telah memasukkan sektor tekstil sebagai prioritas dalam Roadmap Circular Economy 2024–2050, dengan fokus:

  • Meningkatkan infrastruktur daur ulang.
  • Mendorong Extended Producer Responsibility (EPR) untuk produsen pakaian.
  • Mengurangi limbah dari hulu hingga hilir.
     

Pendekatan ini diharapkan mempercepat transisi dari model linear (buat‑pakai‑buang) ke ekonomi sirkular yang lebih lestari.

2. Program & kolaborasi industri

Beberapa langkah nyata yang sudah berjalan termasuk:

  • Inisiatif daur ulang tekstil oleh platform seperti Reverse Resources, yang membantu melacak dan memproses limbah tekstil untuk tujuan daur ulang.
  • Kampanye dan edukasi melalui acara seperti Sustainable Fashion Fest 2025 yang mempromosikan pakaian berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor.

3. Peran masyarakat & konsumen

Kita sebagai konsumen juga berperan penting dalam menekan limbah pakaian:

  • Mengurangi impuls beli, terutama produk fast fashion yang cepat usang.
  • Menyumbangkan atau meng-upcycle pakaian bekas yang masih layak pakai.
  • Mendukung brand berkelanjutan yang mengimplementasikan daur ulang bahan.

 

Tantangan yang Masih Harus Diatasi

Rendahnya tingkat daur ulang

Meski ada upaya, realitasnya masih kurang dari 10% serat tekstil global yang digunakan kembali sebagai bahan baru. Ini menunjukkan masih banyak ruang untuk teknologi, investasi, dan kesadaran bersama guna memperbesar kapasitas daur ulang tekstil.

Infrastruktur belum merata

Menangani limbah pakaian membutuhkan fasilitas dan sistem pengelolaan yang kuat, dari manufaktur hingga konsumen. Inilah yang masih perlu diperkuat di banyak wilayah di Indonesia, terutama di daerah luar kota besar.

 

indonesia menangani limbah pakaian

Sumber gambar: Kompas

 

Masalah limbah pakaian di Indonesia bukan hal kecil, volume yang sudah mencapai jutaan ton per tahun menunjukkan urgensi tindakan bersama. Keterlibatan pemerintah, industri, komunitas, dan konsumen seperti Anda sangat penting untuk memajukan ekonomi sirkular, mengurangi dampak lingkungan, dan menjadikan benang serta kain bukan sekadar sampah, tetapi sumber daya berharga yang bisa dipakai lagi.

Bijak dalam fashion berarti peduli pada lingkungan dan masa depan.

Bagikan



KEMBALI