BERITA
20 Jan 2026 | 59 Dilihat | Kategori Berita: Keberlanjutan
Tekstil, merupakan industri yang tak pernah tidur. Tapi di balik gemerlapnya busana baru yang dihasilkan setiap tahun, ada satu masalah besar yang sering luput dari perhatian: limbah tekstil yang menumpuk.
Apa jadinya jika limbah ini justru bisa menjadi aset bernilai tinggi bagi bisnis Anda? Itulah esensi dari benang recycled, benang hasil daur ulang yang semakin digandrungi dunia industri sebagai solusi berkelanjutan sekaligus peluang profit.
Setiap tahunnya industri fashion dan tekstil menghasilkan limbah yang mengejutkan. Menurut hijau.bisnis.com, diperkirakan sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap tahun di seluruh dunia, dengan sebagian besar justru berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar. Tidak hanya itu, sebagian besar limbah memuat serat sintetis seperti poliester yang sulit terurai dan dapat mencemari tanah serta air.
Di Indonesia, limbah tekstil juga menjadi masalah serius. Menurut data Bappenas, negara ini menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah tekstil setiap tahun, namun hanya sebagian kecil yang berhasil didaur ulang. Sisanya sering berakhir di TPA atau dibakar, berdampak pada emisi gas rumah kaca.
Tekanan global dan domestik ini menempatkan pengelolaan limbah sebagai isu penting, bukan hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga dari sisi strategi bisnis.
Benang recycled artinya benang yang diproduksi dari bahan daur ulang, baik itu serat tekstil bekas (post-consumer) maupun limbah pabrik (pre-consumer). Prosesnya bisa melalui mekanik (penggilingan kembali limbah menjadi serat baru) atau proses kimia yang lebih kompleks untuk menghasilkan serat berkualitas lebih tinggi.
Berbeda dengan benang konvensional yang dibuat dari serat baru (virgin), benang recycled memanfaatkan kembali bahan yang sudah ad, mengurangi kebutuhan raw material baru dan menekan penggunaan sumber daya alam seperti air dan energi di pabrik Anda.
Baca juga: BCI (Better Cotton Initiative): Solusi Berkelanjutan untuk Pabrik Tekstil
Menurut laporan pasar terbaru, industri textile recycling global memiliki nilai sekitar USD 8,41 miliar di 2025 dan diproyeksikan tumbuh menuju USD 11,88 miliar pada 2030, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 7,2%.
Artinya, permintaan untuk produk yang mengandung serat daur ulang, termasuk benang recycled, bukan trend sesaat, melainkan arah pertumbuhan jangka panjang.
Efisiensi biaya produksi
Dengan memanfaatkan limbah internal sebagai bahan baku, Anda bisa mengurangi biaya pembelian serat baru dan biaya pembuangan limbah, yang secara langsung menekan operational cost.
Nilai tambah produk
Produk dengan label berkelanjutan (misalnya “Eco-Friendly Yarn”) kini lebih dihargai konsumen dan retailer besar, yang membuka peluang harga jual premium dibanding produk standar.
Kepatuhan dan daya saing
Dengan meningkatnya regulasi global tentang daur ulang tekstil seperti kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR) yang akan berlaku di beberapa wilayah, penggunaan benang recycled membantu Anda tidak hanya mematuhi aturan, tetapi juga meningkatkan citra merek.
Meski potensinya besar, adopsi benang recycled masih menghadapi beberapa tantangan teknis seperti:
Namun, tantangan ini juga merupakan peluang investasi yang menghasilkan efisiensi jangka panjang dan diferensiasi produk.

Benang recycled membuka peluang strategis bagi industri tekstil yang ingin memaksimalkan nilai dari limbah sekaligus berkontribusi terhadap tujuan keberlanjutan.
Dengan tren pasar yang terus tumbuh, serta tekanan global terkait pengelolaan limbah, ini saatnya Anda mempertimbangkan integrasi benang daur ulang sebagai bagian dari model bisnis masa depan Anda.
Bagikan
KATEGORI BERITA
BERITA TERBARU
BERITA TERPOPULER
BERITA RELEVAN