BERITA

Kenapa Industri Tekstil Perlu Lebih Sustainable? Ini 6 Alasannya

11 Agu 2026   |   Kategori Berita: Keberlanjutan

Di balik setiap kain yang kita gunakan, ada perjalanan panjang yang melibatkan bahan baku, energi, air, proses produksi, hingga distribusi. Karena itu, ketika industri tekstil berbicara tentang sustainability, yang dibahas bukan hanya soal memilih bahan yang lebih ramah lingkungan, tetapi bagaimana seluruh rantai produksi dapat berjalan secara lebih bertanggung jawab.

Lantas, kenapa sustainability industri tekstil semakin penting? Berikut enam alasannya.

 

kenapa industri tekstil perlu lebih sustainable

Sumber gambar: Sepia Stores

 

1. Mengurangi Dampak Lingkungan dari Produksi Tekstil

Industri tekstil memiliki jejak lingkungan yang cukup besar. Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), sektor fashion dan tekstil menyumbang sekitar 2-8% emisi gas rumah kaca global dan menggunakan air dalam jumlah sangat besar setiap tahunnya. Industri ini juga memiliki jejak kimia yang signifikan.

Karena itu, penerapan sustainable textile dapat diarahkan pada berbagai aspek, seperti efisiensi penggunaan air dan energi, pengelolaan bahan kimia, pengurangan limbah, serta pemilihan bahan baku yang lebih bertanggung jawab.

Sustainability mencakup seluruh siklus produk

Pendekatan berkelanjutan tidak berhenti pada proses produksi. Desain produk, pemilihan material, penggunaan, hingga pengelolaan tekstil setelah masa pakainya juga perlu diperhatikan.

 

2. Mengurangi Limbah Tekstil

Limbah menjadi salah satu tantangan besar dalam industri tekstil. UNEP memperkirakan sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan secara global setiap tahun. Menurut Textile Exchange, pangsa gabungan seluruh serat daur ulang justru sedikit menurun dari sekitar 8,5% pada 2021 menjadi 7,9% pada 2022 

Kondisi ini menunjukkan pentingnya peralihan menuju circular textile industry, yaitu sistem yang berupaya mempertahankan material agar tetap digunakan selama mungkin melalui penggunaan kembali, perbaikan, dan recycling.

Dari linear menuju circular

Dalam model linear, material umumnya berakhir sebagai limbah setelah produk digunakan. Sebaliknya, konsep circularity berusaha menjaga material tetap berada dalam siklus penggunaan selama mungkin.

 

3. Meningkatkan Efisiensi Produksi

Sustainability juga berkaitan erat dengan efisiensi. Mengurangi penggunaan air, energi, bahan baku, atau material yang terbuang dapat membantu perusahaan menggunakan sumber daya secara lebih optimal.

UNEP bahkan menunjukkan bahwa langkah sustainability dengan biaya relatif rendah dapat membantu produsen tekstil mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendukung profitabilitas bisnis.

Sustainable bukan berarti sekadar menambah biaya

Dengan pendekatan yang tepat, industri tekstil berkelanjutan justru dapat mendorong efisiensi proses, mengurangi pemborosan, dan meningkatkan penggunaan sumber daya secara lebih terukur.

 

Baca juga: Apa yang Dicari Buyer Global dari Produsen Tekstil Selain Kualitas Produk?

 

4. Menjaga Ketersediaan Bahan Baku

Industri tekstil bergantung pada berbagai sumber serat, termasuk kapas dan serat lainnya. Karena itu, sustainability juga perlu diperhatikan sejak tahap bahan baku.

Pada produksi kapas, misalnya, praktik yang memperhatikan kesehatan tanah, penggunaan pestisida, air, dan biodiversitas menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok yang lebih berkelanjutan. Standar Better Cotton saat ini mencakup prinsip-prinsip terkait pengelolaan lingkungan dan praktik pertanian yang lebih bertanggung jawab.

Sustainable textile dimulai dari supply chain

Artinya, pembahasan sustainability tidak hanya berada di pabrik. Aspek keberlanjutan perlu dipertimbangkan sejak sumber bahan baku hingga produk sampai ke konsumen.

 

5. Memenuhi Tuntutan Pasar Global

Sustainability juga semakin berkaitan dengan akses dan daya saing di pasar global. Di Uni Eropa, kewajiban pengumpulan tekstil bekas secara terpisah berlaku sejak Januari 2025. Per Oktober 2025, aturan ini diperluas lewat revisi Waste Framework Directive yang mewajibkan skema Extended Producer Responsibility (EPR) bagi produsen tekstil dan alas kaki, dengan tenggat implementasi penuh di seluruh negara anggota paling lambat 2027. 

Sustainability menjadi bagian dari supply chain

Bagi produsen dan supplier tekstil, memahami perkembangan tersebut penting agar dapat mengikuti kebutuhan buyer dan perubahan standar pasar. Sustainability pun semakin terhubung dengan traceability, certification, dan responsible supply chain.

 

6. Membangun Industri yang Lebih Bertanggung Jawab

Sustainability juga menyangkut aspek sosial dan ekonomi di sepanjang rantai pasok. OECD Due Diligence Guidance for Responsible Supply Chains in the Garment and Footwear Sector, panduan due diligence yang diadopsi 50 negara, membantu perusahaan mengidentifikasi dan menangani dampak negatif dari aktivitas maupun rantai pasoknya. 

Sustainability adalah tanggung jawab bersama

Mulai dari produsen bahan baku, pabrik tekstil, supplier, brand, hingga konsumen memiliki peran dalam membangun sustainable textile industry. Semakin banyak pihak yang mengambil langkah bertanggung jawab, semakin besar peluang industri untuk berkembang tanpa mengabaikan lingkungan dan manusia di dalamnya.

 

Saatnya Melihat Sustainability sebagai Kebutuhan

Sustainability dalam industri tekstil bukan lagi sekadar tren yang mengikuti perubahan preferensi konsumen. Tekanan terhadap sumber daya, persoalan limbah, perkembangan regulasi, serta tuntutan supply chain global membuat praktik yang lebih berkelanjutan semakin relevan bagi industri.

Kami percaya, langkah menuju industri tekstil yang lebih sustainable dapat dimulai dari keputusan yang lebih terukur di setiap tahap produksi. Dengan memahami kebutuhan material, proses, dan pasar, Anda dapat menentukan langkah sustainability yang paling relevan bagi bisnis dan rantai pasok Anda. 



KEMBALI

BERITA TERBARU

Lihat Berita Lainnya...

BERITA TERPOPULER 🔥

Lihat Berita Terpopuler Lainnya...

BERITA RELEVAN

Lihat Berita Relevan Lainnya...